"Siamo Tutti Fratelli, Kita Semua Bersaudara!"
Bulan Maret, adalah bulan yang identik dengan KSR karena di bulan inilah diperingati HUT KSR PMI Unit I IPB. Untuk memperingati eksistensi KSR di IPB ini, biasanya pengurus akan mengadakan acara Tepalkos; kepanjangan dari Temu Pembina, Alumni, dan Korps. Acara Tepalkos dikemas dalam bentuk menginap bersama di vila, diisi dengan perkenalan, games, jalan-jalan, dll, pokoknya kegiatan yang mengakrabkan, lah.
Maret tahun lalu, 2020, merupakan bulan dimana dinyatakan adanya PSBB di Indonesia sebagai upaya pencegahan pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Tentu saja, implikasinya adalah Tepalkos juga tidak dapat diselenggarakan tahun lalu. Dan, hingga Maret tahun ini pun pandemi Covid-19 belum juga dinyatakan usai, meskipun kondisi tahun ini mulai menunjukkan harapan dengan telah adanya vaksin atas virus tersebut dan proses vaksinasi juga telah ramai digalakkan, termasuk di Indonesia.
Meskipun tahun ini KSR tidak dapat mengadakan Tepalkos, tapi ada rasa yang berbeda di bulan Maret tahun ini. Para pendiri KSR, seperti Kak Riza dan Kak Ipul, mengadakan lomba menulis tentang KSR yang bisa diikuti oleh semua anggota. Tadinya aku sama sekali tidak tertarik menulis apapun. Banyaknya pekerjaan kantor yang belum diselesaikan, sudah cukup menjejali pikiran.
Namun, banyaknya tulisan adik-adik dan kakak-kakak yang berlalu lalang tentang kisah-kisah mereka di KSR, entah mengapa seolah membawa kembali serpihan-serpihan nostalgia di masa lalu. Kenangan mendaki jalan menuju lokasi pelantikan, mengendap-endap di lorong asrama dengan baju penuh lumpur, menangis bersama, makan bersama-sama dari sehelai daun pisang, menjadi tim medis atau mengisi pelatihan medis, hingga merasakan kecewa karena tidak bisa merengkuh teman-teman yang dulunya seperjuangan.
Penghuni Kamar 82 +
Karena ingatanku sudah tidak sejernih air, aku tidak ingat persis mengapa dan darimana bisa kenal KSR PMI Unit I IPB. Yang kuingat adalah saat itu aku mendaftar menjadi anggota KSR bersama kedua teman sekamar asramaku, Nono dan Amel, juga saudara kembarku, Mba Ium.
Saat itu, di tahun 2005, kami merupakan mahasiswa baru di IPB, jadi kami harus tinggal di asrama putri selama satu tahun pertama kami. Alhamdulillah, kebetulan aku dan Mba Ium ditempatkan di gedung dan lantai yang sama, A1, meskipun berbeda lorong dan kamar. Aku di kamar 82 (lorong 7), sedangkan Mba Ium di kamar 116 (lorong 9).
Aku sekamar dengan Nono yang lulusan SMA di Bogor, juga Amel yang lulusan SMA di Bekasi. Nono dan Amel perawakannya memang beda, yang satu tinggi besar sedangkan yang satu lagi imut, tapi dua-duanya sama-sama bawel π. Teman sekamarku satu lagi adalah Fera, lulusan SMA di Lembang, yang lebih pendiam, dan tidak berhasil kami prospek untuk ikut UKM yang sama dengan kami π.
Meskipun tidak berhasil mempengaruhi seorang teman sekamar kami, tapi kami digenapkan oleh seorang penghuni gelap kamar 82, yaitu Mba Ium. Kenapa penghuni gelap? Karena Mba Ium ini ke kamar kami bukan hanya untuk keperluan KSR. Setiap ada jadwal UTS atau UAS, Mba Ium belajar (dan tidur π ) di kamar 82. Kebetulan semua penghuni kamarku ini dan Mba Ium masuk ke kelas A, jadi mata pelajaran kami selalu sama di setiap semester. Kalau kami sudah belajar bersama, Fera yang harus belajar dalam ketenangan, akan mengungsi ke Mushola yang berada di sebelah ruangan SR. Ruangan SR ini ada diantara kamar kami dan Mushola. Oke, sudah kebayang lokasinya, kan? Hehe. Kenapa Fera perlu mengungsi? Karena belajar bersama itu menghasilkan banyak gaya dan suara, guys. Kadang saat sudah di ambang kecemasan dengan banyaknya materi, ada juga yang bersenandung, "Serahkanlaah hidup dan matimu. Serahkan pada Allah semata, serahkan duka gembiramu. Agar damaaai senantiasa haatimuu ... π΅πΆ" π
Kegiatan Diklat Anggota KSR
Pertemuan pertama kali dengan calon anggota muda KSR yang lain dilakukan di koridor fakultas pertanian. Tujuan kami melakukan pertemuan adalah untuk koordinasi menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk diklat (pendidikan dan pelatihan) bagi calon anggota muda. Seingatku, kami butuh slayer putih, buku tulis bersampul putih dengan logo PMI di cover, dan apalagi ya? Lupa, haha.
Lalu, dimulailah hari-hari diklat kami sebagai calon anggota muda. Aku, Nono, Amel, dan Mba Ium, tentunya selalu berangkat dan pulang bersama, dari dan ke asrama kami di A1.
Diklat yang kami ikuti bermacam-macam. Dari pengenalan tentang sejarah PMI dan KSR, prinsip dan hukum palang merah internasional, pertolongan pertama, daan, selanjutnya lupa π. Selain teori, kami juga diajarkan untuk praktek. Kami dikenalkan istilah RJP (Resitutasi Jantung Paru) juga LDR (Lihat Dengar Rasakan). LDR itu secara singkat maksudnya saat menangani korban, kita harus melihat kondisinya, mendengarkan dan merasakan nadi atau nafasnya, gitu. Untuk melakukan pernafasan buatan juga ada tekniknya, berapa kali ditiup, teknik meniupnya harus cepat dan kuat, dsb. Teknik RJP pun tidak sembarangan, mana bagian yang digerakan, posisi tangan dimana dan bagaimana pun ada aturannya. Selain itu, yang utama dan pertama sebelum memberikan pertolongan pertama adalah jangan panik, lihat kondisi sekitar, apakah penolong aman, juga apakah korban aman.
(bersambung)
next - masih draft:
Pelantikan AM 15
cape sedih seru penuh lumpur
Kegiatan Pengabdian
galang dana banjir banjarnegara di lampu merah sambil foto2 di istana bogor, ngiderin amplop galang dana di kelas2, jadi tim medis copa dll
Pelantikan AT
- sedih karena temen seperjuangan ngga bisa ikut, ada yg sakit ada yg praktikum, ada yg lebih memilih fokus di himpro atau ukm lain. pelantikan lebih ke survival, disuruh praktik nafas buatan real di tengah hujan
Menjadi Pengurus KSR
- tidak bisa ikut SU karena sesuatuu hal, jadi bendahara, rapat bendahara dpm yang membingungkan, diklat ke anggota baru yg dibantu oleh kaka kelas
Pelatihan Medis
- saat aku melanglang di sekitar kamus sebagai narasumber pelatihan medis untuk menambah kas ksr, saat aku ngga bisa jadi pantitia selain tim medis di kampus krn identik dg ksr
Tepalkos
pertama - mengenal lebih banyak alumni, dipanggil simon simin oleh alumni
Penutup
Kalau ditanya kenapa bergabung dengan KSR? Jawabanku pasti menimbulkan reaksi "Ooo.. mulia sekali" ke pendengarnya. Iya, sebab aku akan menjawab bahwa aku ikut KSR karena ingin bisa membantu orang-orang yang sakit, yang menderita. Seperti itu intinya. Tetapi, bergabung dengan KSR itu sebenarnya ibarat pelarian dari hal-hal yang membuatku sedih atau merasa 'hidupku kok susah, ya' karena di KSR diajarkan bagaimana cara menolong, juga bisa melihat bahwa banyak orang yang lebih susah, baik ditimpa bencana maupun musibah. Meskipun selama di KSR aku belum pernah terjun langsung ke daereh bencana atau menjadi penolong sungguhan, tapi nilai-nilai bahwa kondisi kita sebenarnya masih lebih baik dari orang lain dan kita masih bisa menolong orang lain, itu tertanam di hati. Duileh, Icih. Semoga self-value yang kuyakini itu, tidak menimbulkan kesan bahwa kita bisa bersyukur di atas kesusahan orang lain.
Yang jelas, bersyukur ikut KSR ini karena dipertemukan dengan teman-teman, kakak-kakak, juga adik-adik yang seru dan asyik. Yang aneh, ngga masuk akal, dan nyebelin juga ada, sih, hehe. Tapi, aku seperti menemukan keluarga baru di KSR. Ya, memang ada keluargaku, Mba Ium, di KSR π. Selain itu, Andi, yang tidak berhasil dibujuk ikut jadi anggota tetap, juga akhirnya jadi keluargaku (read: suami) π.
Tapi, kami, aku dan Mba Ium, menemukan teman-teman yang sudah seperti keluarga sendiri. Juga menemukan teman-teman yang selalu menjadi dirinya sendiri. Beberapa anggota KSR yang aku kenal, kadang dikenal di lingkungan kampus lain (fakultas atau departemennya) sebagai orang yang, yaah, lebih "alim", lah. Tapi di KSR, semua lebih bisa berekspresi dan lebih santai, dengan tetap menjaga nilai-nilai agama tentunya.
Semoga dengan berjalannya waktu, pengurus saat ini dan selanjutnya tetap bisa menjaga eksistensi KSR ini di IPB. Pernah, sih, berpikir ke angkatan di bawahku "kok bisa angkatan ini banyak drama?" "mau sesibuk apapun harusnya tetap bisa, dong, KSRnya jalan". Tapi, bahkan aku pun pernah gagal mengajak teman-temanku untuk tetap berkiprah di KSR. Mungkin saat itu aku bisa menjadikan KSR sebagai prioritas karena itu membuatku lebih bahagia dan memiliki arti, tapi bisa jadi orang lain mendapat kebahagiaan dan arti hidupnya di tempat lain. Dan, meskipun aku merasa terus berlari ke KSR pun, sejatinya tidak banyak hal yang telah kulakukan untuk KSR, baik saat menjadi pengurus maupun setelah menjadi alumni.
Hanya, sebagai seorang anggota keluarga pasti selalu berharap yang terbaik untuk keluarganya.
"KSR IPB. Majulaah... terus maju... πΆπ΅"
No comments:
Post a Comment
Feel free to leave your comments or thought about this post!