Wednesday, 7 January 2026

Aku Selemah-lemahnya Manusia

Kemarin sore, sudah ketiga kalinya mendapati anak kecil itu, yang lusuh dengan karungnya, di teras Yogya.
Setiap kali melihat anak itu, yang muncul hanya rasa marah, juga sedih. Karena, setiap kali itu, aku hanya bisa menjadikannya sebagai bahan renungan, tanpa bisa mengulurkan tangan sekali pun.
Pertama kali melihatnya, saat itu lepas Magrib, aku baru selesai berbelanja. Sambil menunggu ojek, pandanganku mendadak tertuju pada sosok anak kecil, yang sedang menelungkup, di atas karung yang masih kosong. Badannya kecil, seperti Ahsan. Aku cuma tertegun, anak kecil seumuran Ahsan (atau mungkin seumuran Fatih dengan badan sekecil Ahsan), duduk sendirian di pinggir jalan, dengan karung (yang berarti dia ngga sedang habis bermain, kan), lalu kemana ibu bapaknya?
Seandainya anakku harus mengais nafkah di usia dan tubuh sekecil itu, hatiku pasti sakit sekali. Lalu, tanpa melakukan apapun, sama seperti orang-orang dewasa lain yang berlalu lalang di sekitarnya, aku pulang karena ojek yang kupesan sudah datang.
Pulang sambil menyimpan rasa sesak dan kesal, karena terngiang perkataan seseorang beberapa hari sebelumnya, "Memang sudah kewajiban anak memberi uang ke orangtuanya". Meski ini ditujukan untuk orang dewasa, tapi tetap saja rasanya hatiku tidak merasa pernyataan itu benar.
Dan, di saat aku akhirnya tersadar dari renunganku (tapi sudah terlambat), aku baru teringat bahwa dalam tas belanjaanku ada beberapa makanan, dalam saku celanaku ada selembar uang.
Aku, yang sering tidak bisa bersimpati dengan tepat, benar-benar merasa menjadi selemah-lemahnya manusia.

No comments:

Post a Comment

Feel free to leave your comments or thought about this post!