Kemarin, saat sedang serius merangkum paper untuk Master's research paperku, tiba-tiba mendapat pesan singkat dari suami yang berisi satu link berita mengenai satu orang pasien dikonfirmasi positif Covid-19 di Waterloo Region. Beberapa menit kemudian, muncul juga email dari kampus mengabarkan hal yang sama. Sekolah Fatih pun ternyata mengirimkan email tentang hal tersebut.
Ada beberapa hal menarik yang menjadi perhatianku terkait penyampaian berita penting ini:
Pertama, berita ini disampaikan dengan tetap menjaga tone netral dan optimis atas kasus ini. Pejabat Public Health setempat tetap menekankan bahwa risiko di Waterloo Region masih rendah. Bahkan, risiko di Ontario pun masih dikatakan rendah meskipun sampai dengan saat ini total pasien positif Covid-19 mencapai 22 orang di Provinsi Ontario.
Agak mengherankan bagi kami bahwa dengan jumlah kasus yang tidak sedikit ini, otoritas kesehatan masih menggolongkan dalam risiko rendah. Tapi, pengukuran risiko, kan, tidak hanya berdasarkan risiko inheren. Risiko yang tinggi bisa menjadi rendah apabila didukung oleh proses mitigasi yang memadai. Kita semua sadar bahwa sebagian besar masyarakat pasti resah dengan penyebaran wabah Covid-19 ini di seluruh dunia. Otoritas kesehatan di Kanada telah memiliki robust protokol (seperti dapat dilihat di Ontario's website) dan fasilitas yang memadai untuk mencegah penyebaran virus ini sehingga mereka percaya diri bahwa risiko Covid-19 masih tergolong rendah. Selain itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak panik maupun menciptakan kepanikan dalam situasi buruk.
Kedua, berita disampaikan cukup rinci tanpa mengusik privasi pasien. Dalam email yang dikirim oleh pihak kampus, disebutkan airlines dan flight yang digunakan oleh pasien tersebut saat melakukan perjalanan pulang ke Kanada dari Italia. Hal ini ditujukan agar orang-orang yang menggunakan penerbangan yang sama aware dan segera menghubungi Health Services. Bahkan, pejabat Public Health juga menjelaskan tentang bagaimana pasien datang ke rumah sakit dengan kendaraan pribadi, lalu masuk melalui pintu khusus, langsung diperiksa di ruang terisolir untuk meminimalisasi kontak dengan orang lain, dan kapan meninggalkan rumah sakit. Semua berita menyampaikan usia dan gender pasien, tapi tidak sama sekali menyebut tentang nama lengkap (atau inisial), tempat tinggal, maupun profesi.
Ketiga, last but not least, media terus menghimbau tindakan pencegahan, seperti:
- Mencuci tangan dengan sabun dan air minimal 20 detik.
- Tidak menyentuh wajah (terutama mata, hidung, mulut) dengan tangan kotor.
- Menutup mulut saat batuk atau bersin dengan tissue.
- Tetap tinggal di rumah jika sakit.
- Menghindari kontak dengan orang yang sakit.
Sekolah Fatih bahkan menghimbau untuk melakukan annual flu shot, bagi yang belum, karena musim dingin rentan dengan influenza. Pihak kampus menghimbau agar membersihkan dan men-disinfeksi benda-benda dan permukaan yang sering disentuh, seperti laptop dan ponsel.
Sejujurnya, kami juga resah dengan wabah ini. Tapi, kami hanya bisa ikhtiar dengan berupaya melakukan tidakan preventif yang dianjurkan, seperti menjaga pola makan sehat agar tetap fit, mencuci tangan dengan sabun, sampai melengkapi jadwal vaksin flu. Selanjutnya, biarlah keresahan ini diwujudkan dalam doa-doa kami kepada Dia Yang Maha Melindungi.
"Ya Allah Yang Maha Melindungi, hindarkanlah kami dari wabah penyakit ini ..."
No comments:
Post a Comment
Feel free to leave your comments or thought about this post!