Tuesday, 11 February 2020

Trip to London, ON

"Once you became a mother, wherever you go, you are bundled with your kids"
Minggu lalu, kami sekeluarga pergi ke London, ON. Perlu diperjelas ON disini untuk menghindari kesalahpahaman bahwa kami pergi ke London, U.K. Yang pertama salah paham tentang London ini adalah Fatih.
"I want to see Big Ben." Itu request Fatih saat diberitahu kami akan berkunjung ke London. Haha, padahal kami masih travelling di sekitar Ontario, Kanada. 

Kenapa kami ke London? Alasan utamanya karena Ibu akan mengikuti Workshop in Mathematics yang diadakan di Western University pada hari Jum'at, 7 Februari 2020. Dan, karena Ibu sepaket dengan anak-anak, jadilah kami pergi boyongan sekeluarga untuk seminar yang hanya sehari itu. 😄

- Day 1 -


Kita berangkat dari St. Paul's Kamis petang karena seminarnya dimulai Jum'at pagi dan sengaja supaya Fatih nggak perlu ijin sekolah di hari Kamis itu. Eh, ndilalah, ternyata hari Kamis dan Jum'at itu elementary teachers se-Ontario ikut strike. Jadilah sekolah diliburkan. Alhamdulillah, ngga perlu ijin atau bolos hari Jum'at, deh.

Waterloo-London ditempuh sekitar 2 jam. Dari Waterloo ke Charles Terminal, Kitchener, perlu waktu sekitar 15 menit dengan ION, lalu Kitchener-London ditempuh dalam 1 jam 40 menit dengan bus Greyhound.

cemberut kedinginan
Sepanjang perjalanan, hujan salju turun merata. Sejak menunggu bus Greyhound, anak-anak asyik bermain salju, yaitu bersihin salju yang nempel di kursi juga tempat sampah. Jadilah Ibu dan Ayah sibuk setengah berteriak "No, no, no." 😐 Sampai London, salju sudah menumpuk, tapi salju di trotoar belum dibersihkan. Alhasil, kami menuju Airbnb sambil mendorong stroller (dan Ayah menarik koper) menerjang tumpukan salju. Berat euyy.


Baby Ahsan sama sekali nggak tidur sepanjang perjalanan Waterloo-London. Akibatnya, dia jadi super bete nunggu bus (juga nunggu Ayah yang lagi beli tiket sama cemilan). Kalau Fatih mulai kedinginan. Jadi Fatih nurut disuruh nunggu di dalam halte bus yang sebenernya out-of-order. Oiya, sistem transportasi terutama bus di Kanada menurutku kurang terintegrasi. Untuk pengguna bus dan LRT di Waterloo pakai GRT, di Toronto pakai Presto, di London pakai LTC. Di Ottawa masih bisa pakai Presto, tapi begitu kita jalan ke Quebec yang notabene bersebelahan dengan Ottawa, Presto ini nggak valid. Beda jauuh dengan Jepang yang meski jenis kartunya bervariasi tapi bisa dipakai untuk semua jenis transportasi di kota manapun.

Airbnb kami di London alhamdulillah super bersih dan interiornya menawan, euy. Kami di lantai atas. Sayangnya, akses ke tangga nggak ada pagar pengaman, jadi Ahsan excited main di tangga. Huhu, musti jagain baby naik turun tangga.

- Day 2 - 


Somerville House, London ON
Hari-H workshop. Pagi-pagi selepas solat Subuh, Ibu segera siap-siap. Karena Ibu biasa berangkat kuliah jam 10 pagi, sedangkan workshop mulai jam 8.50. Untuk mengejar waktu, Ibu ke Western University naik Uber, hehe. Ayah tau, lah, Ibu nggak mungkin kekejar jam 8.50 kalau naik bus, jadi diinstalkan dan dipesankan Uber di HP Ibu. Alhamdulillah, bisa sampai on time sebelum workshop dimulai, meskipun sempat bingung dulu di Alumni Hall. Ternyata, di aplikasi Uber ini nggak bisa langsung drop off di Somerville House. Aku di drop-off di Alumni Hall, dan agak heran kok gedungnya sepi. Oalah, ternyata harus jalan lagi menuju Somerville House-nya.

Berhubung ini hari Jum'at, siangnya Ibu harus gantian jaga anak-anak karena Ayah harus solat Jum'at. Oke, naik Uber lagi. Kali ini sesuai anjuran Rika, pick-up di Lawson Hall, soalnya lebih dekat dari Somerville House. Daan, menuju ke London Children Museum tempat anak-anak main.

Sorenya, Ibu kembali ke tempat seminar. Tapi sebelum ikut sesi selanjutnya, mampir dulu ke University Community Centre (UCC), Western University, untuk solat Dhuhur. Alhamdulillah, supir Uber kali ini tau persis dimana UCC. Oiya, waktu baru naik, dikira Pak driver, aku orang India karena namaku Widya. Kata Pak driver, "In India, Widya means education." Jadi dia suka namaku. Sama, Pak, saya juga suka nama saya (dalam hatiku, hehe).

Muslim prayer room di UCC letaknya di lantai basement. Aku sempat muter-muter dulu di lantai 3 karena ruangannya 38A, kukira di lantai 3. Akhirnya tanya ke orang, deh, sebelum HP mati dan daripada nyasar. Di Western University, prayer room-nya khusus muslim, beda dengan Waterloo University yang multi-faith prayer room. Di washroom terdekat juga tersedia wudhu space, yaitu  satu bilik kamar mandi dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dipakai untuk wudhu, termasuk membasuh kaki. Pantas saja, di prayer room tersedia sandal yang bisa dipakai untuk wudhu.

Selesai sholat Dhuhur, kembali ke ruang workshop di The Great Hall, Somerville House. Ternyata, dari UCC ke Somerville House cukup dekat, cuma dihalangi Library. Selang sebentar setelah sampai di ruang workshop, waktunya coffe break sore, jadi aku balik lagi ke prayer room di UCC bareng Rika untuk sholat Ashar.

Workshop diakhiri sekitar jam 5 sore. Sebelum meninggalkan area kampus Western, aku dan Rika foto-foto dulu karena Western University ini salah satu ikon kota London. Selain itu, bangunan-bangunan disini berdesain tua dan unik, berbeda dengan Waterloo University yang bangunannya sudah modern.

University College, Western University


- Day 3 -


Last day in London. Bus kami ke Kitchener dijadwalkan jam 13.45, tapi jadwal check-out Airbnb jam 11.00. Jadi, sembari menunggu jadwal keberangkatan bus, kami menelusuri jalan-jalan di downtown London. Tadinya, kami berencana berkunjung ke tempat Uni Ana, sekalian silaturahmi sebelum kami pulang ke Indonesia akhir April nanti. Sayangnya, jadwal Uni sudah padat Sabtu ini. Kami pun memutuskan pergi ke Museum London sambil menunggu disana, tapi ternyata museum baru buka jam 12.00. Akhirnya, kami terus berjalan dan sampai di Covent Garden Market. Sesuai namanya, ini, tuh, pasar. Di dalamnya, banyak penjual makanan, sayuran, buah-buahan, juga barang-barang seperti tas, dll. Kata Rika, mirip St. Jacobs kalau di Waterloo (Aku ngga pernah jalan-jalan ke pasar sih, hehe). Di luar Covent Garden Market, ada arena skating kecil, seperti di depan Waterloo Public Square. Pasar ini sudah ramai saat kami tiba. Sepertinya, orang-orang pergi belanja sambil cari sarapan disini, atau main ice skate sambil sarapan. Ya, sama seperti di Indonesia, belanja pagi-pagi ke pasar sambil makan bubur ayam atau lari pagi di alun-alun sambil cari bubur kacang ijo gitu, hihi.

Covent Garden Market, London ON

Selepas dari Covent Garden Market, masih banyak waktu tersisa hingga jadwal bus kami. Akhirnya, kami kembali ke museum karena waktu menunjukkan sudah menjelang jam 12 siang. Sebenarnya, Museum London ini bukan tempat yang cocok untuk anak-anak. Selayaknya museum, tempatnya hening dan dilarang menyentuh benda yang dipajang. Tapi, tak apalah daripada bosan di Greyhound terminal atau kedinginan di jalan, setidaknya ada bagian kota London yang dieksplor disini. Oiya, masuk ke Museum London ini gratis, cukup memberikan donasi (seikhlasnya) di donation box di dekat Information Desk. Di dalam museum, baru naik ke lantai 2 tempat exhibition, Fatih sudah bosan dan minta turun lagi ke lantai 1. 😒 Sedangkan baby Ahsan, lama-lama pengen lari-lari dan pegang-pegang. Alhasil, akhirnya kami ditegur petugas keamanan, "No running. OK?!" Ibu pun jadi bete, kan. Untungnya, di lantai 2 ini ada sofa untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan di luar museum, yaitu Labatt Park, Kensington Bridge, dan Thames River. Jadi, untuk menahan Ahsan lari-lari adalah dengan breastfeeding di sofa ini.

Museum London ON

Setelah bertahan sekitar 45 menit di museum, kami pun akhirnya menuju Greyhound terminal untuk menunggu keberangkatan bus menuju Kitchener. Sesampainya di terminal, Ahsan tertidur saat Ibu ke washroom. Ahsan masih tidur sampai bus datang dan sepanjang perjalanan kami kembali ke Kitchener. Dan Ibu bahagia saat melihat tanda batas kota Kitchener. Lebih bahagia lagi saat kami akhirnya tiba di St. Paul's. Alhamdulillah...

No comments:

Post a Comment

Feel free to leave your comments or thought about this post!