Friday, 31 July 2009

Merenung tentang Broken Windows

Tadi pagi, sambil beres2 kamar, iseng-iseng lanjutin baca Tipping Pointnya Malcolm Gladwell. Gak sengaja, sampai di halaman yang ngebahas tentang Broken Windows Theory. Broken Windows Theory ini merupakan buah pikir kriminolog James Q.Wilson dan George Kelling. Mereka berpendapat bahwa kriminalitas merupakan akibat takterelakkan dari ketidakteraturan.

Consider a building with a few broken windows. If the windows are not repaired, the tendency is for vandals to break a few more windows. Eventually, they may even break into the building, and if it's unoccupied, perhaps become squatters or light fires inside.

Or consider a sidewalk. Some litter accumulates. Soon, more litter accumulates. Eventually, people even start leaving bags of trash from take-out restaurants there or breaking into cars.

Seandainya saja jendela sebuah rumah pecah, lalu dibiarkan begitu saja, maka orang-orang akan berpendapat bahwa rumah itu gak ada penghuninya, gak keurus, so gak masalah kalau jendela-jendela yang lain dipecahkan! Dengan begitu, makin banyak jendela yang pecah dan makin banyak anarki yang dilakukan pada si rumah. Dan, parahnya, anarki ini bisa juga berkembang di seluruh kota!!

George Kelling, si penggagas teori ini, disewa sebagai konsultan di New York Transit Authority tahun 1980-an, meminta institusi itu menerapkan teori tersebut. Mereka menurut dan menempatkan seorang direktur baru, David Gunn. Mr. Gunn yang ditugasi menangani proyek pembangunan kembali kereta bawah tanah di New York, bergeming saat orang-orang menyarankan dia untuk tidak mengurusi hal-hal sepele seperti coret-coret (coret-coret di kereta bawah tanah di New York tahun 1980an itu udah jadi hal yang biasa banget diliat). Gunn mendirikan pos pembersihan di Bronx, yang membersihkan tiap gerbong yang penuh coretan dalam sehari. Gerbong kotor yang penuh dengan coretan tidak pernah boleh bercampur dengan gerbong bersih. “..kalian boleh saja menghabiskan waktu tiga malam untuk menggambari kereta ini, tapi tidak akan ada yang melihat karya kalian, karena kami segera menghapusnya,” kata Gunn. (Sebuah graffiti bisa selesai 100% dalam 3 hari, tapi pembersihan tidak perlu menunggu lama, cukup sehari) Pesan yang jelas buat para pelaku vandal!

Seperti Gunn, William Bratton yang merupakan polisi kereta api baru, juga penganut teori Broken Windows. Mr. Bratton ini memutuskan membasmi kebiasaan naik kereta tanpa karcis, disaat tindak kejahatan serius yang disertai kekerasan sangat marak terjadi di sistem kereta bawah tanah. Yeah, tapi menangkap orang-orang tanpa karcis ini seperti menggali tambang emas. “Setiap penangkapan seperti membuka kotak berhadiah. Mainan apa yang akan kudapatkan kali ini? Senjata api? Pisau? Karcis palsu? Uang palsu? Bahkan kadang-kadang asda tersangka pembunuh..”kata Bratton. Kalian tahu maksudnya kan? Yup, dari orang-orang yang gak punya karcis, ternyata terungkap bahwa satu dari tujuh orang pernah terlibat kejahatan, dan satu dari dua puluh membawa senjata, dan sejenisnya. Benar, kan, seperti mendapatkan harta karun, hehe.

Oya, gak cuma sampai disitu sepak terjang Bratton. Setelah diangkat menjadi Kepala Kepolisian New York City, ia menerapkan strategi yang sama di kota secara keseluruhan. Dia melakukan penegakan hukum untuk kasus-kasus yang ringan, seperti mabuk-mabukan di tempat umum, buang air kecil sembarangan, bahkan mereka yang membuang botol kosong ke jalanan.

Oke, kita kembali pada teori Broken Windows. Ilustrasi di atas sebenarnya hanya praktek dari teori ini. Best practice mungkin tepatnya karena benar-benar berhasil. Teori ini sebenarnya digagas tahun 1982, sayang sekali baru baca sekarang. Tapi, gak apa lah. 

Teori ini menurutku cukup menjelaskan beberapa fenomena yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Buang sampah sembarangan. Karena apa? Karena sudah ada sampah yang dibuang di tempat itu. Meludah di depan umum. Karena apa? Karena di jalan ini juga udah ada ludah orang. Ngetem sembarangan. Karena apa? Karena angkot di depan juga ngetem. Naik kereta tanpa karcis? Karena apa? Karena orang di depan saya juga gak apa tanpa karcis. Melanggar rambu jalan. Karena apa? Karena saya mengikuti bapak-bapak di depan saya. Panjang, deh, kalau ditulis semua contohnya. Singkatnya, karena seseorang sudah melakukan terlebih dahulu dengan bebas, maka tidak apa kita melakukannya. Hal negatif itu jadi meluas dilakukan oleh banyak orang.

Terus gimana? Bratton berpendapat, untuk mengguncang epidemi tersebut (kriminalitas), tentunya yang ditangani dulu hal-hal kecil yang terjadi di lingkungan bersangkutan. Yup, setuju sekali. Aku coba membayangkan saat-saat dimana seseorang ditahan karena melempar bungkus permennya dengan percaya diri ke jalan, atau sehabis meludah, lagi-lagi dengan percaya diri, di jalan. Sebenarnya susah juga, sih, membayangkannya.

Oke, untukku sendiri, gak perlu berpikir yang muluk-muluk dulu. Kalau aku, sih, akan berusaha mulai dari broken windows yang ada di sekitarku dulu (semoga bukan di rumahku). Atau mungkin dari dirty windows yah, hehe, itu bersih-bersih namanya. Oke, mulai sekarang pedulilah dengan ‘jendela rusak’ kalau tidak ingin ada jendela-jendela lain yang rusak. Kalau tidak ingin sampai ada rumah yang rusak.

No comments:

Post a Comment

Feel free to leave your comments or thought about this post!